Senin, 03 Juni 2013

DEFINISI PENERJEMAHAN TEKS KHUSUS

DEFINISI PENERJEMAHAN TEKS KHUSUS

Name   : Retta Natalia Sinambela
Class    : 4Sa01
Npm     : 16609316



Penerjemahan adalah proses, cara, perbuatan menerjemahkan, pengalih bahasaan. Teks adalah naskah yang berupa kata-kata asli dari pengarang, bahan tertulis untuk dasar memberikan pelajaran, pidato, dsb. Khusus adalah khas, istimewa, tidak umum.

Penerjemahan teks khusus adalah proses menerjemahkan tulisan yang bersifat formal dan diisi dengan kata-kata yang resmi/ formal yang diterima sebagai EYD di dalam berbahasa yang benar, yang digunakan dalam dokumen tertentu, misalnya KTP, IJAZAH, SIM, dan dokumen yang diresmikan lainnya oleh negara.

Penerjemahan Teks Khusus (Ijazah)

Name   : Retta Natalia Sinambela
Npm    : 16609316
Class   : 4Sa01
 
 
DEPARTMENT OF NATIONAL EDUCATION
THE REPUBLIC OF INDONESIA

CERTIFICATE

SENIOR HIGH SCHOOL
STUDY PROGRAM : SCIENCE
SCHOOL YEAR 2006/2007


The Undersigned, Headmaster of The Senior High School “Putra/i Bangsa”, explains that:

name                                           : Natalia Putri
place and date of birth                 : Batam, 21 Desember 1989
name of parent                            : Henry Joshua
name of senior high school           :Putra/i Bangsa
student register number                :5021
participant number                       :  5-09-04-09-021-016-4

HAS GRADUATED

From the senior high school base on the result of the school and National Examination and has fulfilled all criteria pursuant to the applicable regulation.

Batam, 16 June 2007

Headmaster


(Darwin Hendratno)
NIP. 130456799

Sabtu, 30 Maret 2013

TUGAS SOFSKILL


 BEAUTY OF MUSIC

            Music is created to deliver voice, which in every stanza contains the feelings of joy and sadness, feelings of love, jealousy and hatred. He was created to accompany those who love it when they need it. Through music people can learn to understand each other, understand each other, love each other, because music can unite the difference. Differences of language, ethnicity and religion can be united with the music so much in this world.
            While listening to music we would not have to question where the musicians of the group that presents music it. We just focus on listening to the beauty of the music is just through the lyrics of songs and clinking musical instruments presented by the musicians. There will be no resentment but only the beauty of it is that we get through music, because we can listen to music anytime and anywhere, and can give a new spirit when we are sad or happy.
            Through music we are also able to interact with all people in the world, it can happen because while we all liked the same music from musicians that exist in this world, we can know other music lovers who also like the same musicians. We can communicate with them and get the latest information about our idol musicians to exchange information between one and the other. Interaction with other music lovers also can happen when we attend a concert of the musicians, where we will gather and meet with different people, but any difference is not a problem because it's the beauty of music can unite.
            Beauty for peace, for unity of beauty, the beauty of love, the beauty of brotherhood, and beauty will live. All this can be felt only by the music. It can provide color to the beauty of life and the world, to give love and affection for the injured, give a smile and laughter to those who grieve. All we can feel the beauty of it all the time, regardless of the type of music we listen to.


                                                                                        Name  : Retta Natalia Sinambela
                                                                                        Class   : 4Sa01

Kamis, 28 Maret 2013

FORMAT KTP IN ENGLISH


DKI JAKARTA PROVINCE
JAKARTA CITY

SERIAL REGISTER NAME    :
Name                                         :
City/ Date of Birth                    :
Sex                                            : Female
Address                                     :                                                            
                    RT/RW                 :                                                               
                    SubDistrict            :
                    Country                 :
                    Regency                :
Religion                                    : Christian                                       Marital Status : Unmarried
Occupation                              :  Student
Expiry                                      : 21st of December2016
Nationality                               : Indonesian                                     Head of SubDistrict/Head of Village


Signature/Fingerprint

                                                                                                Name : Retta Natalia Sinambela
                                                                                                 Class  : 4Sa01

Minggu, 06 Januari 2013

INTERAKSI BUDAYA
 

Tema : Interasksi Budaya melalui Tarian Daerah

Pengertian Interasksi dan Budaya

            Dalam bukunya Drs. Soetomo istilah interaksi adalah suatu hubungan timbal balik antara orang satu dengan orang lainnya. Didalam ilmu sosiologi interaksi selalu dikaitkan dengan istilah sosial yaitu hubungan timbal balik atau aksi dan reaksi diantara orang-orang, yang mana interaksi sosial tidak memperdulikan hubungan tersebut bersifat bersahabat atau bermusuhan, formal atau informal, apakah dilakukan berhadapan muka secara langsung atau melalui komunikasi yang tidak berhadapan secara langsung. Jadi, Interaksi adalah hubungan timbal balik yg dapat dilakukan antara dua orang atau lebih dalam melakukan sosialisasi.
             Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

Ragam Budaya Indonesia
            Indonesia sebagai negara yang terdiri dari berbagai suku dan bahasa, memiliki banyak ragam budaya dari setiap daerah, yang menjadikan daerah-daerah yang tersebar di Indonesia unik dan mewarnai budaya di Indonesia. Wujud dari keragaman budaya yang tersebar di Indonesia dapat dilihat dari ragam rumah adat, tarian, lagu, musik, seni gambar, seni patung, pakaian adat dan makanan. Banyaknya ragam budaya tersebut menjadikan setiap daerah mempunyai ciri dan keunikan sendiri yang menjadikan dareah-daerah tersebut dapat dengan mudah diingat melalui budaya yang ada. Sebagai contoh tari saman, tarian ini sudah banyak dikenal oleh masyarakat di luar daerah Aceh, bahkan dikenal juga di luar negeri dan hal ini menjadikan Aceh turut dikenal bersamaan dengan banyaknya orang mengetahui tarian ini.
            Dalam tulisan ini, saya ingin menjelaskan tentang Interaksi Budaya melalui tarian. Begitu banyak tarian daerah yang dimiliki oleh Indonesia dan semuanya itu tersebar luas dari Sabang sampai Merauke. Tak dapat dipungkiri tarian daerah yang banyak jumlahnya sangat mempengaruhi masyarakat dalam melakukan interaksi budaya, di mana melalui tarian antara satu orang dan orang yang lain dapat melakukan sosialisai hubungan timbal-balik antara yang satu dan yang lainnya, bukan hanya interaksi budaya dari masyrakat di daerah dan suku yang sama, melainkan dapat juga terjadi interaksi budaya antara satu daerah dengan daerah yang lain, mungkin juga bukan hanya mencakup wilayah Indonesia saja, tapi mencakup masyarakat global, hanya melalui sebuah tarian. 
Contoh-contoh tarian dari beberapa daerah di Indonesia :
Tari legong Bali, Bali
Tari legong Bali Macam Macam Tarian Tradisional Indonesia
Tari Saman Meuseukat, Aceh
Tari Saman Meuseukat 300x216 Macam Macam Tarian Tradisional Indonesia
Tari Topeng, DKI Jakarta
Tari Topeng Betawi Jakarta 300x216 Macam Macam Tarian Tradisional Indonesia
Sekapur Sirih, Jambi
Tari Sekapur Sirih Jambi 300x225 Macam Macam Tarian Tradisional Indonesia
Reog Ponorogo, Jawa Timur
Tari Reog Ponorogo Jawa Timur 300x199 Macam Macam Tarian Tradisional Indonesia
Tari Perang, Kalimantan Timur
Tari perang Kalimantan Timur 300x201 Macam Macam Tarian Tradisional Indonesia
Tari Piring, Minangkabau
Tari Piring Minangkabau Sumatera Barat 300x225 Macam Macam Tarian Tradisional Indonesia
Tari Tor tor, Sumatera Utara
Tari Tor Tor Sumatera Utara 300x212 Macam Macam Tarian Tradisional Indonesia
            Tarian di atas adalah beberapa contoh tari daerah yang terdapat di Indonesia. Setiap daerah di Indonesia memiliki setidaknya dua atau lebih tari daerah, di mana setiap tarian mempunyai arti tersendiri dari setiap gerakan yang ada dalan tari-tarian tersebut. Melalui tari-tarian yang ada di Indonesia, setiap masyarakatnya dapat mempelajari budaya dari setiap daerah, bukan hanya dapat dipelajari secara langsung tapi juga dapat dipelajari dengan tidak langsung, dengan cara menyaksikan atau menonton tarian tersebut atau hanya sekedar membaca informasi tentang tarian tersebut,  secara tidak langsung masyarakat sudah ikut mengambil bagian dalam melakukan interaksi budaya.

Hubungan Tarian Daerah dan Budaya
            Tari merupakan budaya yang terdapat di Indonesia yang tidak dapat lepas dari budaya kita, seperti halnya bahasa yang menjadi budaya terpenting bagi setiap daerah, begitu juga adanya dengan tarian, tari juga sangat penting bagi masyarakat kita, di mana tari-tarian juga bagian dari banyaknya ragam budaya di Indonesia. Oleh karena itu, tarian daerah dan budaya memiliki hubungan yang sangat erat bagi setiap suku di Indonesia. Melalui tarian kita mempelajari budaya, dan melalui budaya kita mempelajari dan paham akan tari-tarian yang ada di wilayah nusantara ini.
            Budaya yang baik dapat dilihat dan dipelajari dengan cara bagaimana masyarakatnya mau menghargai dan mempelajari ragam budayanya, seperti ragam rumah adat, tarian, lagu, musik, seni gambar, seni patung, pakaian adat dan makanan. Dalam hal ini tarian daerah, dengan lebih menghargai dan mempelajari lagi tarian daerah yang ada di Indonesia sama halnya kita ikut melstarikan budaya nusantara yang tersebar luas.
            Melestarikan budaya, dalam hal ini tarian bukan hanya dengan mempelajari tarian dari suatu daerah tertentu saja, tetapi berbagai tarian yang ada di nusantara dan ikut melestarikan tarian tersebut dengan cara memperkenalkan akan tarian daerah ke masyarakat luas bahkan sampai ke seluruh masyarakat global dengan melibatkan semua aspek masyarakat, dari muda sampai tua, miskin maupun kaya, bahkan sampai kepada pemerintahan yang bertujuan agar budaya tarian daerah kita tetap terjaga sampai ratusan bahkan ribuan tahun bagi generasi muda dan setiap makna yang ada di dalam tari-tarian daerah tidak ikut berubah seiring berjalannya waktu, tetapi tetap terjaga sebagaimana mestinya budaya itu lahir dari nenek moyang kita.

Konflik Sosial Budaya
            Konflik dan isu yang berkembang yang berkaitan dengan budaya tarian daerah di Indonesia adalah, adanya pihak luar yang mengklaim atau mengakui memiliki budaya yang ada di Indonesia. Seperti kita ketahui negara tetangga, Malaysia yang merupakan satu rumpun dengan negara kita, sempat mengangkat isu akan kepemilikan tari reog ponorogo dari Jawa Timur dan tari tor-tor dari Sumatera Utara sebagai tarian dari negara mereka, di mana mereka menampilkan tarian tersebut dalam iklan pariwisata dalam rangka mempromosikan negara dan budaya mereka kepada dunia.
            Konflik sosial budaya antara dua negara satu rumpun ini sempat memanas, yang mengakibatkan sejumlah masyarakat khususnya kalangan mahasiswa di seluruh Indonesia, turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi untuk menuntut Malaysia agar menarik kembali pengakuan mereka. Mereka menuntut agar pemerintah Malaysia tidak sembarangan mengakui budaya Indonesia tersebut dan menuntut pemerintah Indonesia agar segera melakukan tindakan. Bahkan terjadi juga tindakan anarkis, di mana mahasiswa mendatangi kantor kedutaan Malaysia yang ada di Indonesia, dan mahasiswa juga menuntut agar kerjasama Indonesia-Malaysia diberhentikan.
            Aksi anarkis mahasiswa bukan hanya menuntut diberhentikannya kerjasama antara Indonesia-Malaysia, mahasiswa juga membakar bendera kebangsaan Malaysia sebagai bentuk protes akan tindakan pemerintah Malaysia tersebut. Hal ini tentu dilakukan, karena masyarakt kita sudah tidak terima atas tindakan mereka tersebut, yang bukan hanya sekali tapi beberapa kali mengklaim akan kepemilikan mereka atas tarian daerah bahkan alat musik yang sebenarnya berasal dari Nusantara Indonesia. Akibat dari konflik sosial budaya antara Indonesia-Malaysia ini, menyebabkan ketidak respect-an masyarakat Indonesia terhadap Malaysia dan mengakibatkan kerjasama kedua negara ini memanas dari segala aspek, terutama aspek ketenagakerjaan Indonesia, di mana banyak masyarakat kita yang bekerja menjadi TKI di negara tetangga itu.
berikut beberapa foto aksi demo masyarakat Indonesia atas Malaysia
            Foto saat salah satu pemuda membakar bendera dan menuntut kemerdekaan
 
Aksi demo di depan kantor kedutaan Malaysia
Foto-foto Aksi Mahasiswa Membakar Bendera Malaysia - 20111011_Bakar_Bendera_Malaysia_.jpg
            Foto masyarakat bersama-sam membakar bendera Malaysia

Dampak dan Cara Mengatasi Konflik Sosial Budaya
            Dampak yang ditimbulkan dari konflik sosial budaya antara kedua negara, bukan hanya terjadi di satu negara, melainkan terjadi pada kedua negara, bahkan mempengaruhi wilayah yang luas di seluruh dunia, karena hal ini juga menyangkut HAM. Dampak yang terjadi di Indonesia sendiri, masyarakat tidak lagi mempercayai negara tetangga atas apa yang terjadi, apa yang mereka lakukan dan katakan memberikan reaksi yang buruk bagi masyarakat kita, sedangkan bagi Malaysia dampak yang terjadi, yaitu adanya ketidakpercayaan masyarakat Indonesia bahkan dunia kepada Malaysia atas isu sosial budaya ini.
            Ketidakpercayaan ini mengakibatkan kerjasam di semua aspek terganggu dan memanas, bukan hanya aspek sosial budaya, tetapi aspek ekonomi, politik, dan lain-lain. Keberadaan masyarakat dari dua negara yang beseteru, yang bekerja maupun berdomisili di negara konflik tersebut juga ikut terganggu.

Cara Mengatasi Konflik Sosial Budaya
            Untuk mencegah isu dan konflik yang sama terjadi dibutuhkan kerjasama yang baik antara semua pihak, antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah juga harus lebih memperhatikan ragam budaya di setiap daerah dan mensahkan ragam budaya tersebut secara resmi, dan mengumumkan segala jenis ragam budaya yang ada di Indonesia kepada masyarakat secara global, agar lebih banyak negara yang mengetahui keberadaan budaya-budaya yang ada di Indonesia, dengan begitu kita sebagai masyarakat Indonesia sudah mencegah terjadinya penculikan atas apa yang kita miliki oleh negara lain, dan kita dapat mengatasi konflik sosial budaya agar tidak terulang lagi di Indonesia bahkan di negara lain.
            Mengatasi konflik sosial budaya juga dapat kita lakukan dengan mempelajari ragam budaya daerah, khususnya bahasa dan tarian. Dengan mempelajari tarian daerah dan bahasa daerah, kita ikut melestarikan dan menjaga keutuhan budaya dari setiap daerah yang ada di Indonesia. Meperkenalkan ragam budaya tersebut kepada masyarakat banyak juga membantu orang lain buat mengenal akan budaya kita, sehingga dengan begitu kita sudah turut dalam mengembangkan budaya daerah kita dan melakukan interaksi budaya kepada orang lain. Dengan adanya hal tersebut, pariwisata dari setiap daerah juga turut berkembang, ketika wisatawan baik lokal maupun mancanegara berkunjung ke suatu daerah tersebut, kita dapat menunjukan tarian daerah yang kita punya untuk menyambut mereka, sehingga semakin banyak orang yang mengenal budaya kita dan interkasi budaya pun terjadi secara berkesinambungan, saat hal itu sering dilakukan semkin banyak yang mengenal budaya kita.

Kesimpulan
            Melalui interaksi budaya dalam tarian daerah maupun ragam budaya yang lainnya mari kita meningkatkan kedekatan antara satu daerah dan daerah lain, menghargai akan perbedaan yang ada di Indonesia dan saling mendukung atas keunikan-keunikan yang dimiliki. Dengan begitu, hubungan timbal balik yang positif dapat terjadi saat bersosialisasi baik dalam lingkungan daerah dan suku yang sama maupun antara suku dan daerah yang berbeda, sehingga yang ada di Indonesia hanya perstuan dan kesatuan yang utuh dan kerjasama yang baik dalam menjaga dan menghargai segala budaya yang ada di Nusantara ini untuk menciptakan keharmonisan dan Indonesia yang lebih maju, indah dan baik yang menghargai budayanya.
            

Sumber Data : http://www.azamku.com/macam-macam-tarian-tradisional-indonesia.html
http://www.tribunnews.com/2011/10/11/foto-foto-aksi-mahasiswa-membakar-bendera-malaysia
http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Indonesia
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2261194-pengertian-interaksi/



NAMA   : RETTA NATALIA SINAMBELA
KELAS  : 4 SA 01
NPM      : 16609316

Minggu, 17 Juni 2012

Taman Nasional Gunung Leuser ( Bukit Lawang )



BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
                  Bukit Lawang telah lama dikenal sebagai daerah kunjungan wisata, baik oleh kalangan wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Bukit Lawang terletak di desa Bukit Lawang, kecamatan Bohorok, Kabupaten Langkat. Bukit Lawang merupakan salah satu pintu masuk kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Potensi wisata yang menjadi daya tariknya antara lain Orangutan, panorama yang indah, hutan alam yang asri yang sangat menarik buat wisatawan untuk melakukan trekking, rafting, caving dan lain-lain kegiatan wisata yang berbasis kepada alam bebas dan menguji adrenalin para wisatawan. Selain itu, berbagai jenis flora dan fauna yang diantaranya tergolong langka, merupakan daya tarik tersendiri untuk menunjang kegiatan wisata, khususnya ekowisata. Berkat potensi tersebut, saat ini Bukit Lawang telah menjadi kawasan wisata  yang terkenal sampai keluar negeri. 
                  Salah satu ”point of interest” atau obyek yang menarik kalau berkunjung ke sana adalah kehidupan orangutan. Bukit Lawang sebagai pusat rehabilitasi orangutan didirikan pada tahun 1973. Terdapat sekitar 5.000 orangutan menempati area tersebut. Tujuan utama pusat rehabilitasi ini adalah untuk melestarikan populasi orangutan yang semakin berkurang akibat perburuan, dan perdagangan. Taman wisata Bukit Lawang juga memberikan banyak keindahan yang dapat memanjakan mata para wisatawan, hal ini dapat dilihat dari panorama alam yang indah dengan sungai yang jernih serta keberadaan Orangutan Sumatra yang memang menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung
                  Di Taman Wisata Bukit Lawang juga dapat dijumpai beberapa jenis tumbuhan dan satwa seperti kantong semar, meranti, keruing, damar laut, anggrek hutan, rafflessia, bunga bangkai, cendawan harimau, anekaragam kupu-kupu, orangutan, siamang, beruang madu, kambing hutan dan lainnya yang merupakan khas hutan hujan tropis. Hal-hal tersebut diatas membuat obyek wisata ini tidak pernah sepi dikunjungi oleh wisatawan baik wisatawan lokal maupun wisatwan mancanegara. Dengan daya tariknya tersendiri ini, bayak wisatawan yang tidak pernah bosan untuk berkunjung lagi dan menjadikan obyek wisata ini sebagai obyek wisata wajib untuk dikunjungi, khususnya bagi wisatawan asli dari Sumatera Utara.
                  Sebagai obyek wisata terkenal di Sumatera Utara, tentu terdapat masyarakat disekitar obyek wisata ini yang turut membantu dalam menjaga stabilitas alam di kawasan ini. Mata pencaharian masyarakat di Bukit Lawang umumnya adalah petani dan pedagang. Beberapa  fasilitas akomodasi berkembang pesat disini terutama sebelum terjadinya krisis ekonomi. Keberadaan fasilitas akomodasi ini mutlak  diperlukan  untuk menampung para turis. Disamping itu, masyarakat sekitar yang sudah terbiasa bergaul dengan para wisatawan dan terlibat langsung dalam kegiatan wisata merupakan kekuatan lain yang sangat menunjang kegiatan wisata. Beberapa contoh keterlibatan masyarakat tersebut antara lain adalah sebagai pemandu wisata, pedagang souvenir, pedagang makanan, karyawan hotel, dan lain-lain.
                  Di mana mereka yang bekerja sebagai petani dapat menjual hasil taninya dan berdagang barang-barang yang menjadi cenderamata yang dapat dibeli para pengunjung secara langsung. Budaya di Bukit Lawang heterogen, tidak ada yang dominan antara suku Melayu, Karo, Jawa dan Batak, mereka semua dapat hidup berdampingan dalam menjaga kelestarian alam daerah mereka. Bagi wisatawan yang belum pernah berkunjung ke Bukit Lawang, tidak perlu khawatir karena di Bukit Lawang banyak tersedia para pemandu wisata lokal berpengalaman, bagi pengunjung yang membutuhkan pemandu selama melakukan petualangan di Bukit Lawang, dapat menghubungi Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bukit Lawang. HPI dan juga pondok-pondok penginapan di Bukit Lawang menyediakan pilihan paket-paket wisata yang menarik dengan harga terjangkau.

1.2  Latar Belakang Masalah
1. Apakah keistimewaan dari obyek wisata ini?
2. Apakah kekurangan  dari obyek wisata ini?
3. Bagaimana cara melakukan pemasaran bagi kawasan wisata ini?

1.3 Tujuan Penelitian
Sejalan dengan uraian pada latar belakang dan perumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
1. Untuk mengetahui keistimewaan dari obyek wisata Bukit Lawang
2. Untuk mengetahui kekurangan dari obyek wisata Bukit Lawan
3. Mencari tahu cara melakukan pemasaran bagi kawasan wisata ini

1.4 Ruang Lingkup Penelitian
                  Dalam penelitian tentang obyek pariwisata Taman Nasiona Gunung Leuser atau yang lebih dikenal dengan Taman Wisata Bukit Lawang yang terdapat di Sumatera utara ini, penulis akan menjabarkan tentang sejarah obyek wisata taman nasional gunung leuser, keistimewaan dan kekurangan dari obyek pariwisata ini, serta mencari tahu cara memasarkan kawasan wisata Bukit Lawang.




BAB 2
KAJIAN TEORI
                   2.1 Sejarah Taman Nasional Gunung Leuser ( Bukit Lawang )
                    Seacara yuridis formal keberadaan Taman Nasional Gunung Leuser untuk pertama kali         dituangkan dalam Pengumuman Menteri Pertanian Nomor: 811/Kpts/Um/II/1980 tanggal 6 Maret 1980 tentang peresmian 5 (lima) Taman Nasional di Indonesia, yaitu; TN.Gunung Leuser, TN. Ujung Kulon, TN. Gede Pangrango, TN. Baluran, dan TN.         Komodo. Berdasarkan Pengumuman Menteri Pertanian tersebut, ditunjuk luas Taman Nasional Gunung Leuser adalah 792.675 ha. Pengumuman Menteri Pertanian tersebut ditindaklanjuti dengan Surat Direktorat Jenderal Kehutanan Nomor: 719/Dj/VII/1/80, tanggal 7 Maret 1980 yang ditujukan kepada Sub Balai KPA Gunung Leuser. Dalam surat tersebut disebutkan bahwa diberikannya status kewenangan pengelolaan Taman Nasional Gunung Leuser kepada Sub Balai KPA Gunung Leuser. Diterimanya Warisan Hujan Tropis Sumatera ke daftar Situs Warisan Dunia  pada tahun 2004, membuat Taman Nasional Gunung Leuser juga masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia oleh UNESCO (http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Gunung leuser).
                    Taman Wisata Gunung Leuser adalah sebuah kawasan hutan konservasi. Taman nasional ini mengambil nama dari Gunung Leuser yang menjulang tinggi dengan ketinggian 3404 meter di atas permukaan laut. Taman nasional ini meliputi ekosistem     asli dari pantai sampai pegunungan tinggi yang diliputi oleh hutan lebat khas hujan tropis, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya,pariwisata, dan rekreasi.
                    Kendati Tanman Nasional Gunung Leuser termasuk kawasan konservasi tidak berarti tidak dapat dimanfaattkan. Dalam hal, ini konservasi berarti pemanfaatan secara bijaksana, yang menunjang pembangunan yang berkelanjutan. Defenisi konservasi menurut International Union for Conservation of Nature and natural Resources      adalah pengelolaan penggunaan manusia atas biosfer, sehingga dapat menghasilkan maanfaat berkelanjutan yang besar pada generasi sekarang dan memelihara potensinya untuk generasi mendatang. Dengan demikian konservasi mencakup pelestarian, pemeliharaan, pemanfaatan berkelanjutan, pemulihan dan peningkatan mutu lingkungan alamiah (McNeely, 1992:11). Taman Nasional Gunung Leuser memiliki 3 (tiga) fungsi yaitu : a. perlindungan sistem penyangga kehidupan; b. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; c. pemanfaatan secara lestari sumber dayaalamhayatidanekosistemnya(http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_G unung_Leuser).

2.2 Keistimewaan Taman Nasional Gunung Leuser
                    Taman Nasional Gunung Leuser atau TNGL merupakan panorama alam dan “paru-paru” dunia yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia  sebagai cagar alam nasional sejak tahun 1980 dan ditetapkan sebagai warisan  dunia (Cagar Biosfir) oleh UNESCO pada tahun 2004. TNGL berada di lahan seluas 792.675 hektar, diketinggian 3404 meter di atas permukaan laut dengan temperatur  udara 21° – 28° C.
                    Sebagai  obyek wisata alam Taman Wisata Nasional memiliki keistimewaan akan alamnya yang tidak banyak terdapat di obyek wisata lain, keistimewaannya ini dapat dilihat dari Hutan Gunung Leuser yang sangat lebat, berkhas hutan pantai  dan hutan hujan tropis. Di dalamnya terdapat beberapa sungai, danau, sumber  air panas, lembah, dan air terjun. Ekosistem alamnya sangat indah dan beragam  yang meliputi dataran rendah (pantai) hingga pengunungan. Terdapat beragam satwa langka yang dilindungi, seperti kucing hutan, harimau Sumatera, rangkong, Orangutan (yang menjadi daya tarik utama), siamang, ular,  kupu-kupu, burung, gajah Sumatera, badak Sumatera, kambing hutan, dan rusa  sambar. Selain itu, terdapat tumbuhan langka, seperti bunga raksasa “Rhizanthes  zippelnii” yang berdiameter 1,5 meter, bunga raflesia, dan daun  payung raksasa.
                    Ada enam lokasi utama wisata di Taman Nasional Gunung  Leuser, yaitu Obyek wisata lain yang menjadi keistimewaan dari Taman Nasional Gunung Leuser yang dapat dikinjungi adalah :

Bohorok atau Bukit Lawang yang terkenal sebagai kawasan konservasi orang utan;
Kluet yang terkenal dengan wisata goa dan wisata bersampan di danau dan sungai; Gunung Leuser yang sering digunakan untuk lokasi wisata petualangan mendaki dan memanjat gunung;
Sungai Alas yang sering digunakan sebagai lokasi wisata olah raga arum jeram;
Sekunder yang sering dijadikan tempat perkemahan, melakukan pengamatan satwa dan wisata goa; dan 
Gurah, sebagai lokasi untuk menikmati panorama alam yang sangat indah dengan  beragam tumbuhan unik dan langka, sekaligus tempat pengamatan berbagai satwa  langka yang dilindungi.
Ketambe dan Suak Belimbing. Penelitian primata dan satwa lain yang dilengkapi rumah peneliti dan perpustakaa.

2.3 Kekurangan Taman Nasional Gunung Leuser ( Bukit Lawang )
                    Walaupun Taman Nasional Gunung Leuuser ( Bukit Lawang ) sudah dikenal sampai ke dunia internasional, obyek wisata ini masih memiliki kekurangan di mana bayaknya pihak yang tidak bertanggung jawab yang melakukan penebangan liar yang mengakibatkan banyak Orangutan Sumatera yang direhabilitasi disini, harus kehilangan tempat tinggalnya dan hal ini mengakibatkan semakin berkurangnya populasi Orangutan ini. Measkipun pemerintah dan masyarakat sekitar sudah berusaha untuk menjaga agar kelangsungan hidup ekosistem alam tetap terjaga dengan melakukan pengamana secara intensif di dalam hutan, untuk mencegah kejahatan orang yang tidak bertanggung jawab, tapi masih saja hal ini dapat luput dari pantauan mereka, di mana banyak yang berpendapat bahwa hal ini dapat terjadi, karena adanya kerjasama antara pemerintah dengan mereka yang mempunyai kekuasaan untuk melakukan tindakan kriminal, baik penebangan hutan secara legal maupun perburuan Orangutan di kawasan ini.
                    Hal ini pun berdampak terhadap hilangnya keindahan alam yang sudah lama menjdai ciri dari obyek wisata ini. Ketidakbertangjawabnya orang-orang tersebut mengakibatkan terjadinya banjir bandang dan tanah longsor beberapa tahun lalu tepatnya pada tanggal 2 November 2003 di Bukit Lawang menyebabkan ratusan rumah penduduk serta wisma-wisma penginapan di tepian Sungai Bahorok hancur lebur dan rusaknya pohon-pohon hutan hujan tropis yang berusia ratusan tahun.
                    Dampak dari banjir bandang ini mengakibatkan Bukit Lawang kehilangan keindahannya yang berdampak berkurangnya wisatawan yang datang berkunjung. Kurangnya kesadaran masyarakat sekitar untuk menjaga kebersihan juga membuat obyek wisata ini sangat tidak indah, dan hal ini mengakibatkan wisatawan juga mengikuti apa yang sudah menjadi kebiasaan dari masyarakat sekitar, dengan membuang sampah sembarangan. Hal ini dapat dilihat saat wisatawan bersantai ditepian sungai bahorok, dengan membawa makanan mereka dan membuang sampahnya langsung ke sungai, padahal di situ sudah terdapat tempat sampah. Bukan hanya kekurangan dari segi kesadaran masyarakat maupun wisatawan, akan keindahan lingkungan sekitar obyek wisata, kekurangan obyek wisata ini juga adalah masih buruknya jalanan menuju obyek wisata ini yang masih berbatu-batu, padahal pemerintah Indonesia maupun Uni Eropa sudah membuat perhatian khusus atas  kawasan ini dan juga kurangnya fasilittas trasportasi umum di daerah tertentu untuk menuju kawasan wisata ini.

2.4   Cara Memasarkan Kawasan Wisata Bukit Lawang
                    Dalam usaha meningkatkan jumlah wisatawan di kawasan ini, pemerintah dan semua yang terlibat dan bekerja di kawasan wisata ini, harus memperhatikan cara mereka dalam memasarkan kawasan ini kepada masyarakat, sehingga masyarakat tertarik untuk mengunjungi tempat ini dan wistawan yang sudah berkunjung dapat memberikan informasi tentang kawasan wisata Bukit Lawang ke orang lain, dari mulut ke mulut melalui kunjungan mereka. Sebagi usaha dalam memasarkan kawasan wisata Bukit Lawang ini, mereka yang terlibat didalam harus mengetahui apa yang menjad daya tarik dari Bukit Lawang sebagai strategi dalam pemasaran. Dalam hal ini, strategi pemasaran yang harus dilakukan meliputi :
1.      Produk
Produk yang dijual oleh Bukit Lawang adalah jasa penginapan dengan menyewakan kamar-kamar layaknya seperti hotel pada umumnya. Ada beberapa jenis type kamar yang disewakan berupa kamar ekonomi, standar room, kamar vip.
2.      Kebijakan Promosi Bukit Lawang.
              Promosi merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan atau memberitahukan kepada konsumen produk yang ditawarkan, sehingga konsumen tertarik dan mau membeli produk yang diperkenalkan tersebut. Berbeda dengan barang pemasaran produk karena ini pelayanan jasa, maka barang tidak berwujud. Akan berwujud pada saat digunakan jasa tersebut.
Kebijakan promosi yang dilakukan oleh Bukit Lawang, meliputi:
a.      Periklanan (Advertising)
Periklanan merupakan alat promosi yang paling efektif untuk memperkenalkan barang/jassa  kepada konsumen secara tidak langsung. Periklanan yang dilakukan Bukit Lawang melalui media yaitu:
1.Periklanan melalui media massa.
        Periklanan melalui media masa yang digunakan pada umumnya adalah melalui media cetak lokal seperti surat kabar dan majalah.

b.      Promosi
        Promosi ini dilakukan untuk merangsang konsumen agar tertarik untuk melakukan pembelian. Kegiatan dilakukan melalui promosi penjualan adalah berupa pameran-pameran dan juga brosur. Bentuk lain promosi penjualan yang dilakukan adalah jasa pelayanan kamar, di mana mereka yang terlibat dalam penjualan jasa di Bukit Lawang, mau menerima masukan maupun keluhan dari penyewa. Sehingga dengan demikian pengguna jasa penginapan merasa terpuaskan, dan menjadi promosi secara tidak langsung kepada calon konsumen yang baru. Dan mereka yang terlibatpun berusaha untuk menimbulkan kepercayaan dan kesan yang baik dari konsumennya.

c.       Publisitas
        Publisistas adalah bentuk penyajian dan penyebaran ide, barang dan jasa secara non personal, yang mana orang atau organisasi yang diuntungkan tidak membayar untuk itu. Publisistas merupakan pemanfaatan nilai-nilai berita yang terkandung  dalam suatu produk untuk membentuk citra produk yang bersangkutan. Dibandingkan dengan iklan publisitas mempunyai kredibilitas yang lebih baik, karena pembenaran (baik langsung maupun tidak langsung) dilakukan oleh pihak lain selain pemilik iklan. Disamping itu karena pesan publisitas dimasukan kedalam berita atau artikel koran, tabloid, majalah radio, dan televisi, maka khalayak tidak memandangnya sebagai komunikasi promosi. Dalam publisitas memberikan informasi yang lebih banyak dan terperinci dari pada iklan. Namun demikian karena tidak ada perjanjian dengan antara pihak yang diuntungkan dan pihak penyaji,maka pihak yang diuntungkan tidak dapat mengatur kapan publisitas ini akan disajikan atau bagaimana publisitas itu disajikan. Selain itu publisitas tidak mungkin diulang-ulang seperti iklan


BAB 3
METODE PENELITIAN

     3.1 Jenis Metode Penelitian
                       Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah menggunakan metode kualitatif . Tujuan penggunaan metode ini dirasa lebih efektif karena, penulis dapat mengumpulan data  melalui tulisan dan artikel yang ada terutama melalui internet. Hal ini dirasa lebih efektik, karena penulis tidak dapat terjun langsung ke tempat obyek wisata yang terdapat di Sumatera Utara

     3.2  Teknik Pengumpulan Data
     1.  Review kepustakaan (artikel review)
                  Kegiatan dilakukan dengan membahas beberapa artikel yang berkaitan langsung dengan operasional Ecolodge Bukit Lawang, buku-buku teks, majalah ilmiah, jurnal, serta sumber lainnya yang ada hubungannya dengan isi pembahasan.

    3.3  Sumber Data
                  Sumber data yang digunakan penulis adalah data sekunder, di mana penulis mengumpulkan data melalui artikel  atau tulisan-tulisan yang terdapat di internet.




 Name       : Retta Natalia 
class          : 3SA01
NPM         :16609316